Lamtoras Apresiasi Mendiang BJ Habibie Terkait Penghentian Inti Indorayon Utama

oleh -54 views

Beritaobserver.Com–Tetua Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras), Mangitua Ambarita mengapresasi mendiang Presiden RI ketiga, BJ Habibie yang menghentikan kegiatan operasional PT Inti Indorayon Utama (IIU), sekarang bernama PT Toba Pulp Lestari, pada 19 Maret 1999 yang silam.

“Kami masyarakat adat dari Tanah Batak, mengucapkan terima kasih kepada Presiden Ke-3, Bapak BJ Habibie, yang peduli pada keluhan dan apirasi masyarakt adat, serta lingkungan hidup dengan menutup PT IIU,”kata Wakil Ketua Umum Lamtoras dari Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Mangitua Ambarita dalam keterangan tertulisnya yang diterima, Sabtu (27/11).

Menurut Mangitua Ambarita kedatanganya berziarah kemakam BJ Habibie dilakukan untuk mengingat kebijakan dan keputusan Presiden BJ Habibie pada masa itu, yang merespons keluhan masyarakat.

“Doa kami supaya ada lagi pemimpin Indonesia yang peduli pada masyarakat,”kata Mangitua.

Mangitua membeberkan dirinya pernah dipenjarakan selama dua tahun karena mempertahankan tanah adat Sihaporas yang sudah terbit peta Enclave Belanda tahun 1916.

Lantaran masuk penjara, dua anaknya gagal kuliah pada perguruan tinggi negeri. Seorang putus kuliah dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung, seorang lainnya di Universitas Bangka Belitung.

Hal senada juga diungkapkan aktivis AMAN Tano Batak, bahwa sikap Preside BJ Hbaibie menutup perusahaan kehadiran PT Inti Indorayon Utama (IIU) yang sekarang berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL) menorehkan sejarah panjang perlawanan masyarakat di Tapanuli.

Sejak tahun 1987, ketika pabrik perusahaan ini baru berdiri, gerakan perlawanan sudah muncul. Diduga Pemicunya adalah perampasan tanah dan pencemaran lingkungan hidup di sekitar pabrik.

SATUKAN TEKAD

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Pastor Moses menduga keberadaan TPL menimbukan kerusakan pada lingkungan. Apalagi sambungnya, sudah banyak analisa ilmiah dan sosiologis yang menyimpulkan TPL memang harus ditutup.

“Kerusakan lingkungan berupa menurunnya luas hutan alam. Contoh yang paling kasat mata adalah hutan Tele dan di Sihaporas. Kalau kita mau menjaga kelestarian Danau Toba dan menjadikannya sebagai tujuan pariwisata super prioritas maka hanya ada satu kata tutup TPL,”tegasnya

Terkait sulitnya menutup keberadaan TPL, sambung Pastor Moses, menilai tergantung pada tekad masyarakat itu sendiri. Apalagi banyak kepentingan-kepentingan yang terjadi pada masyarakat itu sendiri.

“Yang sering saya ragukan adalah komitmen kita bersama. Kita mudah terpecah dan mudah tergoda sesuatu. Beragam cara untuk mempengaruhi masyarakat agar tetap mendukung mereka dengan dalih ekonomi. Kalau kita belum memiliki nada dasar yang sama untuk berjuang menutup TPL, maka perusahaan ini akan jalan terus. Dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Ketahanan mental untuk tidak menerima sesuatu. Mari kita satukan tekad,”pungkasnya.

Seperti diketahui, Perusahaan penghasil pulp dan rayon yang pabriknya berada di Sosor Ladang, Kecamatan Parmaksian, Porsea, sejak melakukan kegiatan sempat dituduh menimbulkan pencemaran lingkungan yang sangat serius tidak hanya di sekitar pabrik, tetapi juga di desa-desa sepanjang daerah aliran Sungai Asahan. Gerakan perlawanan dengan isu lingkungan ini semakin meluas ke daerah-daerah lain yang juga terkena dampak lingkungan serupa.

Aksi massa yang berujung pada kekerasan kerap terjadi. Korban jiwa pun tak terhindarkan, baik dari pihak masyarakat maupun perusahaan. Akibatnya dua korban meninggal, Warga bernama Ir Panuju Manurung meninggal 26 November 1998, berselang tiga hari setelah menjadi korban penembakan, saat unjuk rasa di pabrik PT IIU Porsea, 23 November 1998.

Pada 19 Maret 1999, Presiden BJ Habibie memutuskan untuk menghentikan sementara operasi PT IIU. Keputusan itu disambut hangat oleh masyarakat dan dianggap sebagai sebuah kemenangan gerakan rakyat.

Setelah Presiden BJ Habibie lengser, wacana membuka PT IIU berkali-kali muncul dan setiap muncul wacana itu, rakyat kembali bergolak. Demontrasi berjilid-jilid. Bentrok sering terjadi.

Seorang pelajar kelas dua STM Yayasan Parulian Porsea, bernama HS, yang kebetulan melintas, tewas terkena terjangan peluru.

Korporasi ini kembali dibuka. Melalui sidang kabinet 10 Mei 2000 yang dipimpin Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, pemerintah memutuskan untuk menutup pabrik rayon namun membuka kembali pabrik pulp.

Menteri Tenaga Kerja Jacob Nuwa Wea (politisi PDIP), aktif mendorong dan memberi izin pembukaan kembali PT IIU/TPL. Keputusan ini memicu kemarahan masyarakat, yang terus berlangsung hingga kini (REN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *