Beritaobserver.Com–40 orang perwakilan masyarakat adat di kawasan Danau Toba yang tergabung dalam Aliansi Gerak rakyat (Gerak) Tutup TPL berziarah ke pemakaman Prof Dr Ing BJ Habibie, di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan.
“Kedatangan kami sebanyak 40 orang perwakilan masyarakat adat yang tergabung dalam Aliansi Gerak Tutup TPL datang mengenang momentum kebijakan BJ Habibie menghentikan operasional PT Inti Indorayon Utama (IIU), sekarang bernama PT Toba Pulp Lestari, pada 19 Maret 1999,”kata Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarat Adat (AMAN) Tano Batak Roganda Simanjuntak dalam keterangan tertulisnya yang diterima, Sabtu (27/11)
Menurut Roganda Simanjuntak, penutupan operasional perusahaan IIU dilakukan karena masyarakat yang menolak kehadiran industri pulp (bubur kertas) dan rayon (bahan tekstil) yang membawa dampak lingkungan. Masalah lain perampasan lahan atau wilayah milik masyarakat beserta dampak ikutannya.
Roganda mengungkapkan massa berasal dari 20 komunitas masyarakat adat yang tersebar di 5 kabupaten, yakni Kabupaten Simalungun, Toba, Tapanuli Utara (Taput), Humbang Hasundutan (Humbahas) dan Kabupaten Samosir.
Selain itu, Roganda menegaskan kedatangannya berziarah ke makam BJ Habibie dilakukan sebagai sikap untuk mengenang jasa-jasa almarhum yang sangat berharga bagi masyarakat Batak, yang di masa kepemimpinannya, sangat peka mendengar jeritan-jeritan dan penderitaan rakyat yang diakibatkan PT IIU. Diantaranya pencemaran limbah berbahaya di seputar pabrik PT IIU, kerusakan lingkungan di Kawasan Danau Toba dan perampasan tanah rakyat oleh rezim Orde Baru, yang lalu menyerahkan tanah kepada ST.
“Beliau (BJ Habibie) adalah pemimpin yang sangat ideal, karena peka akan jeritan-jeritan warga. Beliau juga ilmuan, dan dengan keilmuannya mendorong dilakukannya penelitian secara ilmiah terkait manfaat dan dampak PT IIU, dan kemudian terbukti tanpa ragu-ragu menutup PT IIU saat itu,”tegas Roganda.
Roganda Simanjuntak membeberkan komunitas masyarakat adat Kawasan Danau Toba sudah dua pekan berada d Jakarta. Mereka melakukan aksi dan teatrikal bersambung. Di antaranya, mendatangi Komnas HAM, Komnas Perempuan, kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Istana Negara, serta kantor Kementerian Linkungan Hidup dan Kehutanan.
Aspirasi yang dibawa dengan berbagai alasan untuk satu tujuan, agar pemerintah menutup PT TPL karena dianggap lebih banyak dampak negatif (mudharat kehadirannya) daripada manfaatnya.
“Kami sangat merindukan pemimpin seperti sosok Presiden ketiga bapak BJ Habibie. Karena itu, kami datang untuk berterima kasih, mengucap syukur, dan berdoa kepada Tuhan yang Mahakuasa, untuk menempatkan beliau di tempat terbaik yang disediakan oleh Tuhan,” kata Roganda, satu dari 21 pendemo yang diangkut polisi dari kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat (26/11/2021) petang.
“Kami juga berharap, pemimpin yang sekarang, bapak presioden Joko Widodo dapat meniru kepemimpinan pak Habibie yang sangat peka mendengar jeritan warganya. Harapan kami, Presiden Jokowi menutup TPL dan tanah dikembalikan pada rakyat,”ujar Roganda.
Ia menandaskan, “Kami berharap pak Jokowi bertindak seperti pak BJ Habibie. Kami melihat, Pak Jokowi sebenarnya juga peka terhadap jeritan rakyat. Namun mungkin, beliau belum konsentrasi pada kasus TPL. Padahal data-data, dosa-dosa TPL sudah disampaikan kepada beliau, kami berharap, agar presiden Jokowi memberi solusi yang tepat dengan menutup PT TPL.”
Sebelumnya, 6 Agustus 2021, aktivis lingkungan dari Sumatera Utara, Togu Simorangkir–yang berjalan kaki 54 hari bersama tim 11 Aksi Jalan Kaki Tutup TPL, bertemu dengan Presiden Jokowi. Saat itu, Togu menyerahkan buku berisi daftar dampak buruk kehadiran (dosa-dosa) PT IIU/TP di Kawasan Danau Toba.
Selain tabur bunga massa juga berdoa di makam Habibie yang pusaranya bersebelahan dengan sang istri, Hasri Ainun Besari (REN)





