Penyidik Kejagung Tahan Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi ASABRI

0
11

“JS (Jimmy Sutopo) ditahan di rumah tahanan Klas I Cipinang Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), selamat 20 hari kedepan,”kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam rilisnya yang diterima, Selasa (17/02)

JAKARTA (BOS)--Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung langsung melakukan penahanan terhadap Direktur Jakarta Emiten Investor Relation, Jimmy Sutopo (JS), tersangka baru kasus dugaan korupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI).

JS dijebloskan ke rumah tahanan Klas I Cipinang Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), usai menjalani pemeriksaan kasus mega korupsi yang saat ini sedang disidik Kejagung

“JS (Jimmy Sutopo) ditahan di rumah tahanan Klas I Cipinang Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), selamat 20 hari kedepan,”kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam rilisnya yang diterima, Selasa (17/02)

Mantan wakil kepala Kejati Papua Barat menegaskan, penahanan terhadap JS dilakukan untuk efektifnya pemeriksaan selanjutnya, berdasarkan alasan obyektif maupun subyektif.

“Sbelumnya JS, FB Selaku Direktur PT Pool Advista Asset Managemen, dan F Direktur Utama PT Ourora Asset Management diperiksa tim penyidik sebagai saksi,”ujar Leo Simanjuntak.

Setelah menjalani pemeriksaan, tim penyidik sepakat menetapkan JS sebagai tersangka berdasarkan Surat Penetapan Tersangka TPK Nomor: Print- 09 /F.2/Fd.2/02/2021 tanggal 15 Februari 2021.

“Dari tiga orang yang diperiksa sebagai saksi pada hari ini, satu diantaranya ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut yaitu JS diduga secara bersama-sama dengan tersangka BTS melakukan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan dan Dana Investasi oleh PT. Asabri (Persero) untuk memperoleh keuntungan,” kata Leo.

Dalam kasus ini, lanjut Leo Simanjuntak, Jimmy diduga melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang PT Asabri (Persero) dan ditetapkan sebagai Tersangka berdasarkan Surat Penetapan Tersangka TPPU Nomor: Print- 01 /F.2/Fd.2/02/2021 tanggal 15 Februari 2021.

Kasus ini bermula sekitar awal tahun 2013 sampai dengan tahun 2019, tersangka Jimmy telah bersepakat dengan Tersangka BTS untuk mengatur trading transaksi (jual/beli) saham kepada PT. Asabri (Persero) dengan cara menyiapkan nominee-nominee dan membukakan akun nominee di perusahaan sekuritas dan menunjuk perusahaan-perusahaan sekuritas.

“Selanjutnya Tersangka JS melaksanakan instruksi penetapan harga dan transaksi jual dan beli saham pada akun Rekening Dana Nasabah (RDN) nominee baik pada transaksi direct maupun reksadana yang kemudian dibeli oleh PT. Asabei (Persero) sebagai hasil manipulasi harga,”beber Leo Simanjuntak

Selanjutnya, Tersangka Jimmy menampung dana hasil keuntungan investasi dari PT. Asabri (Persero) pada nomor rekening atas nama beberapa staf saham Tersangka BTS untuk selanjutnya melakukan transaksi keluar masuk dana untuk kepentingan pribadi dengan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan dan membelanjakan uang hasil tindak pidana korupsi serta perbuatan lain yang termasuk dalam skema tindak pidana pencucian uang.

Atas perbuatan Jimmy Sutopo dijerat Pasal berlapis, yakni pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP; Subsidair Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dan kedua Pasal 3 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP; Atau Kedua : Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP

Seperti diketahui, kasus berawal pada tahun 2012- 2019, Direktur Utama, Direktur Investasi dan Keuangan, serta Kadiv Investasi PT. ASABRI bersama-sama telah melakukan kesepakatan dengan pihak di luar PT. ASABRI yang bukan merupakan konsultan investasi ataupun MI (Manajer Investasi) yaitu HH, BTS, dan LP, untuk membeli atau menukar saham dalam portofolio PT. ASABRI dengan saham-saham milik HH, BTS, dan LP dengan harga yang telah dimanipulasi menjadi tinggi, dengan tujuan agar kinerja portofolio PT. ASABRI terlihat seolah-olah baik.

Setelah saham-saham tersebut menjadi milik PT. ASABRI, lanjut Leo Simanjuntak, saham-saham tersebut ditransaksikan atau dikendalikan oleh pihak HH, BTS, dan LP berdasarkan kesepakatan bersama dengan Direksi PT. ASABRI, sehingga seolah-olah saham tersebut bernilai tinggi dan likuid, padahal transaksi-transaksi yang dilakukan hanya transaksi semu dan menguntungkan pihak HH, BTS dan LP serta merugikan investasi atau keuangan PT. ASABRI, karena PT. ASABRI menjual saham-saham dalam portofolionya dengan harga dibawah harga perolehan saham-saham tersebut. (ANT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here