Lagi Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi LPEI

oleh -9 views

Beritaobserver.Com–Kejaksaan Agung kembali menetapkan dua tersangka baru kasus dugaan korupsi Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) yang diduga merugikan keuangan negara sekitar Rp2,6 triliun.

Kali ini, mantan Relationship Manager LPEI periode 2010-2014 sekaligus mantan Kepala Departemen Pembiayaan UKM LPEI periode 2014-2018, Purnomo dan mantan Kepala Divisi Analisa Risiko Bisnis II LPEI periode April 2015-Januari 2019, Djoko Slamet Djamhoer dijadikan tersangka Mega korupsi yang sedang diusut penyidik gedung bundar, Kejagung.

‘Keduanya ditetapkan sebagai tersangka karena tim penyidik sudah mendapatkan dua alat bukti yang cukup terkait keterlibatannya dalam kasus korupsi penyelenggaraan pembiayaan ekspor nasional oleh LPEI tahun 2013-2019,”Kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Ebenezer Simanjuntak di Jakarta, Kamis (16/01)

Kapuspenkum Kejagung yang akrab disapa Leo, menegaskan pasca ditetapkan sebagai tersangka keduanya langsung ditahan Rumah Tahanan Salemba cabang Kejagung dengan alasan agar para tersangka tidak melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mempengaruhi para saksi.

“Penahanan kedua tersangka dilakukan untuk proses penyidikan. Keduanya ditahan selama 20 hari ke depan, mulai hari ini Kamis 13 Januari-1 Februari 2022,” katanya.

Sebelumnya Kejagung telah menetapkan tujuh mantan pejabat LPEI sebagai tersangka.

Yaitu IS selaku mantan Direktur Pelaksana UKM dan Asuransi Penjaminan LPEI tahun 2016-2018, NH selaku mantan Kepala Departemen Analisa Risiko Bisnis (ARD) II LPEI tahun 2017-2018, dan EM selaku mantan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Makassar (LPEI) tahun 2019-2020.

Kemudian, CRGS selaku mantan Relationship Manager Divisi Unit Bisnis tahun 2015-2020 pada LPEI Kanwil Surakarta, AA selaku Deputi Bisnis pada LPEI Kanwil Surakarta tahun 2016-2018, ML selaku mantan Kepala Departemen Bisnis UKMK LPEI, dan RAR selaku pegawai Manager Risiko PT BUS Indonesia.

Leo menegaskan ketujuh tersangka diketahui telah beberapa kali menolak memberikan keterangan sebagai saksi dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Akibatnya, mempesulit penanganan dan penyelesaian penyidikan perkara.

Tidak tinggal diam, Penyidik Kejagung langsung bertindak tegas menjebloskan ketujuh tersangka ke Rumah Tahanan Kelas I Cipinang mulai 2 November sampai 21 November 2021.

Terkait kasus yang menjerat para tersangka, Leo menjelaskan bahwa kasus tersebut berawal saat LPEI memberikan pembiayaan sebesar Rp4,7 triliun. Pembiayaan tersebut diberikan kepada 27 perusahaan dari delapan grup.

Namun sambungnya, proses pemberian pembiayaan tersebut ternyata tidak sesuai dengan Prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) dan tidak sesuai dengan Aturan Kebijakan Perkreditan LPEI sehingga berdampak pada meningkatnya Kredit Macet pada tahun 2019 sebesar 23,39 persen dan berdasarkan Laporan Keuangan LPEI per 31 Desember 2019 LPEI mengalami kerugian tahun berjalan sebesar Rp4.700.000.000.000.

Berdasarkan laporan Sistem Informasi Manajemen Resiko Pembiayaan LPEI sekarang dalam posisi Kolektibilitas 5 (macet) per tanggal 31 Desember 2019 yaitu, Group Walet terdiri dari 3 perusahaan dan Group Johan Darsono, terdiri dari 12 perusahaan.

“Terhadap perbuatan melawan hukum tersebut, dari perhitungan sementara penyidik mengakibatkan kerugian keuangan negara (Group Walet dan Group Johan Darsono) kurang lebih sebesar Rp2.600.000.000.000,-

Terkait nilai kerugian yang dialami karena perbuatan para tersangka, Leo mengatakan, pihaknya masih menunggu  penghitungan kerugian negara oleh Badan Pemeriksa Keuangan (REN)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *