BeritaObserver.com – Banteng mengamuk dan beringas ketika melihat matador mengibarkan kain atau muleta merah.
Dengan garang, banteng langsung memburu muleta berwarna merah sang matador.
Menjadi sebuah pandangan umum, warna merah itu membuat banteng bereaksi.
Benarkah kemarahan banteng karena kain warna merah itu?
Ternyata bukan!
Sejatinya, banteng tidak bisa melihat warna merah.
Seperti dikutip dari laman Interesting Facts disebutkan, banteng tidak bisa melihat warna.
Banteng mirip hewan penggembalaan lainnya seperti domba dan kuda.
Mata banteng memiliki dua jenis sel reseptor warna (berbeda dengan tiga jenis sel reseptor warna yang dimiliki manusia).
Reseptor warna pada banteng itu paling peka terhadap warna kuning, hijau, biru, dan ungu.
Kondisi tersebut bisa disebut seperti buta warna yang dikenal sebagai dikromatisme, membuat muleta (jubah merah) matador terlihat abu-abu kekuningan di mata hewan.
Lalu, kenapa banteng marah dan makin beringas ketika melihat matador melambaikan muletanya?
Jawabannya sederhana: itu karena adanya gerakan.
Muleta itu baru dibawa keluar pada tahap ketiga, yang merupakan tahapan terakhir dari atraksi adu banteng.
Alasan mengapa warnanya merah sedikit tidak enak, sebenarnya karena warnanya menutupi noda darah.
Laman Live Science juga menguatkan hal itu.
Menurut mereka, banteng buta warna terhadap warna merah.
”Banteng kemungkinan besar merasa terganggu bukan karena warna muletanya, namun karena gerakan jubahnya saat matador mengayunkannya. Yang mendukung hal ini adalah fakta bahwa seekor banteng menyerang jubah matador lainnya, capote yang lebih besar, dengan kemarahan yang sama. Namun jubah ini berwarna magenta di satu sisi dan emas atau biru di sisi lainnya,” tulis Live Science.
Disebutkan, pada tahun 2007, MythBusters dari Discovery Channel menguji banteng hidup mengenai warna versus gerakan dalam tiga percobaan terpisah.
Pertama, mereka memasang tiga buah bendera stasioner berwarna merah, biru, dan putih di kandang banteng.
Banteng itu menyerang ketiga bendera tanpa memandang warnanya.
Selanjutnya, mereka memasukkan tiga boneka berpakaian merah, biru, dan putih ke dalam arena, dan sekali lagi, banteng menyerang ketiganya tanpa diskriminasi (dan sebenarnya menyerang boneka merah di saat terakhir).***





