Danantara Buka Peluang Mitra Strategis, MIND ID Perkuat Hilirisasi Nikel

oleh -46 views

BeritaObserver.Com, Jakarta– Danantara Indonesia mendorong pengembangan industri hilir nikel melalui kemitraan investasi dengan investor strategis dari berbagai negara. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai nilai industri, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.

Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengatakan, melalui Danantara Investment Management (DIM), pihaknya dapat mencari mitra yang memiliki keahlian untuk mengembangkan fasilitas produksi dan berinvestasi bersama di Indonesia.

Pahala mencontohkan upaya hilirisasi yang dilakukan MIND ID Group melalui sejumlah entitasnya, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Ketiga entitas tersebut menjalankan pengembangan industri hilir dengan menggandeng calon investor maupun investor dari berbagai negara.

“Contoh lain adalah yang dilakukan oleh teman-teman di tempatnya MIND ID. Karena kan ini ada Inalum, ada Antam, ada IBC. Mereka dalam hal ini melakukan upaya hilirisasi bermitra dengan calon investor lain atau investor lain yang berasal dari negara lain juga,” ujar Pahala dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (26/10/2026).

Menurut Pahala, pengembangan hilirisasi nikel mencakup berbagai tahapan produksi yang saling terhubung, mulai dari pengolahan nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat hingga produksi katoda, sel baterai, dan paket baterai.

Pengembangan rantai produksi tersebut membutuhkan investasi pada berbagai tahapan agar ekosistem industri baterai dapat terbentuk secara terintegrasi.

Bagi MIND ID Group, pengembangan rantai nilai tersebut melibatkan peran sejumlah entitas dengan kegiatan usaha yang saling berkaitan. Antam memiliki peran dalam sektor pertambangan nikel, sedangkan IBC terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai.

Kolaborasi dengan investor strategis menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pengembangan industri hilir hingga produk bernilai tambah. Pengembangan industri hilir juga menghadapi tantangan dari sisi kebutuhan modal dan kepastian pasokan bahan baku.

Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menilai, investasi di sektor hilirisasi membutuhkan modal berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan dengan investasi di sektor hulu.

*Karena itu, dia mendukung pemerintah memperkuat keterkaitan kedua sektor menjadi faktor fundamental bagi investor yang ingin masuk ke industri hilir.*

*Dengan demikian, investasi yang sudah digeolontorkan memberikan manfaat yang sesuai dengan perencanaannya di awal.*

“Jadi pertama bagaimana keterkaitan hulu dan hilir ini sebenarnya sesuatu yang sangat fundamental ya. Jadi hulu itu merupakan basis jaminan atau kenyamanan untuk orang melakukan hilirisasi. Kita tahu bahwa investasi di hilirisasi itu berkali-kali lipat besarnya dibandingkan investasi di sektor hulu ya,” ujar Seto.

Salah satu pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia melibatkan Antam, IBC, serta perusahaan asal China, Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL). CBL merupakan perusahaan patungan yang melibatkan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, dan Lygend.

Total investasi proyek ekosistem baterai terintegrasi tersebut mencapai US$5,9 miliar atau setara Rp96,04 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.278 per dolar AS. Pengembangan proyek ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai industri baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir di Indonesia (REN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *