Penyidik Pidsus Tahan 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Import Tekstil Bea Cukai Ke Rutan Salemba Cabang Kejagung

0
29
Kapuspenkum Kejagung, Hari Setiyono. Foto: Beritaobserver.com

JAKARTA (BOS)–Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI, langsung menjebloskan tiga dari lima tersangka kasus dugaan korupsi (Tipikor) penyalahgunaan kewenangan dalam importasi tekstil pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Tahun 2018-2020 ke Rumah Tahanan Salemba Cabang Kejaksaan Agung selama 20 hari kedepan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono mengungkapkan ketiga tersangka yang langsung ditahan usai menjalani pemeriksaan adalah KS (Kamaruddin Siregar), selaku Kepala Seksi Pelayanan Pabean dan Cukai (PPC) II Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Batam, DA (Dedi Aldrian) selaku Kepala Seksi PPC III KPU Bea dan Cukai Batam dan HAW (Haryoni Adi Wibowo) selaku Kepala Seksi Pabean dan Cukai I pada KPU Bea Cukai Batam.

“Ketiga tersangka tersebut kemudian dilakukan penahanan rumah tahanan negara (Rutan) untuk waktu selama 20 (duapuluh) hari terhitung mulai hari ini Rabu 24 Juni 2020 sampai dengan 13 Juli 2020,”kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Hari Setiyono, di Kejagung, Jakarta, Rabu (24/06).

Sementara dua tersangka lainnya yang belum ditahan adalah Kabid Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan KPU Bea dan Cukai Batam dengan inisial MM, dan pemilik PT Flemings Indo Batam (FIB) dan PT Peter Garmindo Prima (PGP) inisial IR. Meskipun keduanya belum ditahan, Kejagung sudah mecekal bepergian ke luar negeri.

Kelima tersangka dikenai pasal sangkaan yakni primair Padal 2 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2002 jo Padal 55 ayat (2) ke-1 KUHP jo Pasal 64 atat (1) KUHP.

Subsidair Pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2002 jo Padal 55 ayat (2) ke-1 KUHP jo Pasal 64 atat (1) KUHP.

Hari menambahkan kelimanya  ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan alat bukti yang diperoleh penyidik.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi dalam proses import tekstil tersebut berawal pada tanggal 2 Maret 2020, ditemukan 27 (duapuluh tujuh) kontainer milik PT. FIB (Flemings Indo Batam) dan PT. PGP (Peter Garmindo Prima) ditegah oleh bidang penindakan dan penyidikan kantor pelayanan utama Bea dan Cukai Tanjung Priok dan didapati ketidaksesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01.

Faktanya, keluar dengan isi muatan hasil pemeriksaan fisik barang oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok.

Namun setelah dihitung terdapat kelebihan fisik barang, masing-masing untuk PT. PGP sebanyak 5.075 roll dan PT. FIB sebanyak 3.075 roll ;

Selain itu didalam dokumen pengiriman disebutkan kain tersebut berasal dari Shanti Park, Myra Road, India dan kapal pengangkut berangkat dari Pelabuhan Nhava Sheva di Timur Mumbai, India.

Namun faktanya kapal pengangkut tersebut tidak pernah singgah di India dan kain-kain tersebut ternyata berasal dari China.

Bahwa fakta yang sebenarnya kontainer berisi kain brokat, sutra dan satin tersebut berangkat dari pelabuhan Hongkong, singgah di Malaysia dan berakhir di Batam.

Pada saat kapal tiba di Batam, kontainer berisi tekstil milik importir PT. FIB dan PT. PGP tersebut kemudian dibongkar dan dipindahkan ke kontainer yang berbeda di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) di kawasan pabean Batu Ampar tanpa pengawasan oleh bidang P2 dan bidang Kepabeanan dan Cukai KPU Batam.

Selanjutnya setelah seluruh muatan dipindahkan ke kontainer yang berbeda, kemudian kontainer asal tersebut diisi dengan kain lain yang berbeda dengan muatan awalnya, yaitu diisi dengan kain polister yang harganya lebih murah dan kemudian diangkut menggunakan kapal lain menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

Selanjutnya, sesampainya di Pelabuhan Tanjung Priok kontainer tersebut rencananya akan dikirim ke alamat tujuan yaitu Kompleks Pergudangan Green Sedayu Bizpark Cakung Jakarta Timur (BAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here