Sabam Sirait Meninggal Dunia, Ketum PGI Gomar Gultom : Pelintas Batas itu telah Pergi

oleh -86 views
Sabam Sirait /Foto/Istimewa

Beritaobserver.Com–Politikus senior Sabam Gunung Panangian Sirait pendiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meninggal dunia di rumah sakit. Pria yang dikenal ceplos ceplos melontarkan gagasan politiknya menghembuskan napas terakhir pada usai 85 tahun, Rabu (29/09) pukul 22.37 wib, setelah sekitar dua bulan dirawat intensif di RS Siloam Karawaci.

Sejumlah tokoh politik dan tokoh agama melontarkan kesedihannya mendengar kabar putra terbaik bangsa Indonesia itu, wafat. Salah satunya, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom turut menyampaikan duka mendalam atas kepergian sang politikus berjiwa kebangsaan itu.

“Saya mengenang beliau sebagai seorang yang mampu hadir sebagai “Imam” di tengah carut marut perpolitikan bangsa. Seorang politisi senior yang konsisten dengan komitmen politiknya untuk menegakkan demokrasi dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Untuk kedua hal ini, beliau tak kenal lelah dan juga tak kenal takut. Masyarakat politik Indonesia sempat menjulukinya “Mr Interupsi”, katanya dalam rilis yang diterima,Kamis (30/09)

Betapa tidak, sambung Goemar, di masa pemerintahan orde baru yang hegemonic itu, dia pernah menginterupsi persidangan MPR-RI, sesuatu yang sangat mengejutkan ketika itu. Kita sama mengetahui bahwa ketika itu berlaku pameo mufakat dulu baru musyawarah untuk MPR, sehingga agenda persidangan selalu bak prosesi yang sudah diatur alur percakapannya, bak Suharto dan kelompencapir.

“Itulah Bang Sabam, politisi tiga jaman, mulai dari masa Orla, Orba hingga Reformasi, yang menyediakan diri berjuang menegak demokrasi, apapun taruhannya,”ujarnya.

Sebagai seorang politisi, lanjutnya, di tengah masyarakat majemuk Indonesia, dia menolak untuk menyembunyikan kesaksian imannya sebagai seorang kristiani. Namun pada saat yang sama dia juga menolak untuk membatasi karya perjuangan iman hanya lewat lembaga gerejani. Baginya, karya dan kehadiran iman Kristiani, terlalu luas, sehingga tak harus dibatasi oleh tembok-tembok gereja. Dia adalah seorang pelintas batas, yang mampu menembusi sekat-sekat perbedaan.

Ketika seorang pendeta mengeluh padanya tentang fenomena penutupan gereja, dengan tegas dia berkata, “Lho, ketika kasus Talangsari dan Tanjung Priok banyak umat muslim terbunuh, dimana kalian?”. Sekalipun dia berkata demikian, tetap saja keluhan pendeta itu ditindak-lanjutinya. Dia pun bersuara keras menentangi praktek Orba yang sempat mensensor kotbah-kotbah Jumat di masjid.

Sebagai pelintas batas, dia tidak hanya berjuang bagi tegaknya demokrasi dan kemanusiaan di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Dia sangat kuat mendukung kemerdekaan negara Palestina, dan dengan kukuh menolak untuk berkunjung ke Israel. Dalam berbagai kesempatan, dia dengan lantang membela perjuangan rakyat Irak untuk menegakkan kedaulatan mereka, seraya mengecam keras serangan Amerika atas Irak.

“Bang Sabam yang bisa garang menentangi berbagai kebijakan Presiden, tetapi dalam kapasitasnya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen, dia senantiasa sedia dan mampu menjelaskan sikap dan langkah yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam menangani berbagai tuduhan kasus pelanggaran HAM di beberapa forum internasional,”kata Gomar.

Sabam Sirait lahir di Tanjungbalai, Sumatera Utara, 13 Oktober 1936. Saat ini, Sabam Sirait menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menggantikan AM Fatwa yang meninggal pada Desember 2017. (REN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *