BeritaObserver.Com, Semarang–Antisipasi bencana alam yang saat ini kerap terjadi berbagai wilayah di pulau Jawa, Camat Sumowono, Cholid Mawardi menekankan lima hal dalam upaya mengantisipasi bencana akibat cuaca ekstrem. Alasannya di Kecamatannya memiliki geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang berpotensi terjadinya bencana.
“Pemantauan kondisi alam dan aktifitas terhadap potensi bencana pada desa-desa yang memilki resiko tinggi mohon dilakukan secara terus menerus, termasuk semua desa tangguh bencana juga harus siap siaga,” kata Camat Sumowono, Cholid Mawardi pada Beritaobserver.Com biro Jawa Tengah pada, Kamis (24/11/2022).
Untuk itu, Cholid Mawardi mengingatkan jajarannya agar mempersiapkan personel dan peralatan penanggulangan bencana, simulasi , gladi, serta latihan-latihan secara terpadu penguatan koordinasi antar lembaga di tingkat kecamatan serta monitoring perkembangan cuaca secara intensif.
Lebih lanjut ia mengingatkan, rencana kontigensi perlu dipersiapkan oleh kepala desa sesuai dengan peta rawan bencana yang diterbitkan BMKG. Menurutnya ini penting agar kerugian yang ditimbulkan bisa diminimalisir.
Seluruh Kepala Desa se Kecamatan Sumowono bersama Forkopimcam juga dimintanya rutin mengecek kesiapan personel dan peralatan Penanggulangan bencana alam. “Pastikan semua dalam kondisi siaga dan dapat digunakan dengan baik,” ujar dia.
Camat Sumowono mendorong dilaksanakannya simulasi, gladi dan latihan-latihan secara terpadu, sehingga masing-masing desa mengerti apa yang akan dilakukan pada saat terjadi bencana alam utama nya tanah longsor. Juga perlu penguatan koordinasi antar lembaga dalam satu klaster penanganan darurat agar penanggulangan bencana semakin profesional.
“Kemudian monitoring dan pemantauan perkembangan cuaca di wilayah masing-masing desa harus dilakukan secara terus-menerus,” kata Cholid Mawardi.
Ke depan, tegasnya tantangan terhadap pelaksanaan tugas dalam upaya penanggulangan bencana akan semakin berat. Mengingat bencana yang terjadi saat ini secara intensitas dari tahun ketahun mengalami peningkatan.
“Oleh sebab itu kita harus mengubah paradigma penanggulangan bencana yang selama ini bersifat reaktif, respontif, beralih kepada penanggulangan bencana yang bersifat preventif yaitu dengan membuka ruang yang lebih luas terhadap kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana,” ujarnya.
Ia lantas menghimbau kepada masyarakat Sumowono untuk melakukan penataan lingkungan dengan baik. Yakni dengan tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan saluran irigasi atau sungai-sungai , serta memangkas dahan dan ranting pohon yang kelihatan rapuh, katanya.
Dalam kesempatan tersebut Camat Sumowono Cholid Mawardi, mengucapakan belasungkawa dan ikut berduka cita atas gempa bumi di di Cianjur, Jawa Barat yang meninggalnya 268 jiwa serta 151 orang dinyatakan hilang dan belum ditemukan
“Doa terbaik untuk saudara kita di Cianjur semoga dapat segera bangkit dan lekas pulih saudaraku,” pungkasnya (Why)





