BeritaObserver.Com, Pidie–Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengungkap fakta mengejutkan di balik penggerebekan laboratorium sabu-sabu raksasa di kawasan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh. Pabrik narkoba dengan kapasitas produksi 1,2 ton sabu itu dikendalikan oleh ahli kimia profesional dari jaringan internasional.
“Dari prosesnya, laboratorium sabu-sabu di Pidie ini menunjukkan dikelola oleh jaringan dengan chemical expert yang sangat berpengalaman,” tegas Suyudi saat meninjau langsung lokasi yang disamarkan menjadi bangunan toko, dikutip pada Sabtu (24/10/2026).
Sebelumnya, tim gabungan menggerebek ruko tersebut dan menyita 20 drum berisi metamfetamin cair dan 500 Kg sabu kristal. Jika ditotal, berat kotor barang bukti mencapai 1,2 ton.
Kapolri membeberkan, pengungkapan ini bermula dari informasi intelijen terkait pengiriman ratusan kilogram metamfetamin cair dari China yang ditujukan ke Aceh pada Februari 2026. Barang haram itu berhasil masuk ke Aceh pada Mei 2026.
Tak lama berselang, terdeteksi kedatangan dua warga negara asing asal China berinisial LJ (45) dan XM (42) ke Aceh. Keduanya diduga kuat adalah koki atau peracik utama yang bertugas mengubah cairan menjadi kristal sabu.
“Keduanya masuk Aceh lewat jalur Malaysia dan berada di sini selama 10 hari untuk survei lokasi. Mereka kembali ke Malaysia awal Juni 2026,” ungkap Kapolri.
Setelah survei, jaringan ini kembali mengirim hampir satu ton metamfetamin cair ke Aceh yang dikemas dalam kaleng berwarna hijau untuk mengelabui petugas.
Puncaknya, pada pertengahan Oktober 2026, LJ dan XM terdeteksi terbang dari China ke Kuala Lumpur dan bertemu dengan seorang WNI berinisial P. Selama di Malaysia, akomodasi keduanya dibantu WNI lain berinisial MN.
“Kemudian LJ, XM dan MN terdeteksi mendarat di Banda Aceh. Mereka dijemput RI. Dari Banda Aceh mereka bergerak ke sebuah toko di Jeunieb, Bireuen,” jelas Suyudi.
Dari hasil sadapan, tim mengetahui LJ sempat menghubungi bos besar jaringan berinisial LX dan mengabarkan proses produksi sudah dimulai.
Mendapat informasi LJ dan XM berada di lab rahasia Mutiara Timur dan adanya pergerakan barang bukti keluar dari toko, tim gabungan langsung melakukan penggerebekan.
Secara simultan, penindakan juga dilakukan di empat lokasi berbeda di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.Dalam operasi besar ini, 11 orang berhasil ditangkap, termasuk dua warga negara China. Polisi masih memburu sejumlah DPO lain, yakni Z yang diduga sebagai pengatur lapangan, serta ES, Z, BR dan SS.
Suyudi menegaskan, keberhasilan menggagalkan produksi 1,2 ton sabu ini telah menyelamatkan 6 juta jiwa dari bahaya narkoba dan menghemat anggaran negara hingga Rp120 triliun untuk biaya rehabilitasi.
“Ancaman narkoba ini nyata. Ini alarm bahwa Indonesia bukan hanya pasar, tapi sudah dijadikan target lokasi produksi. Butuh kolaborasi semua elemen masyarakat menjadi benteng anti-narkoba,” pungkas Kapolri. (Ainur)





